Selasa, 03 Februari 2009

SI PUDJI JADI SUPIR ANGKOT

Tahun ’89 tahun yang membingungkan karena pada tahun ’88 dengan kebijaksanaan pemerintah di bulan november (kebijakan sumarlin) kebetulan kegiatan usaha saya adalah supplier dan pengadaan serta kontraktor. Dimana semua harga pada naik, alhasil perusahaan kami bangkrut dan ambruk. Sambil berpikir dan merenung saya berkunjung ke rumah saudara yang mempunyai armada angkot jumlahnya sekitar 25 armada.
Semenjak itu saya setiap hari berkunjung k rumah beliau serta bertanya-tanya dan belajar melihat kehidupan dan cara mengoperasikan angkot. Kelihatannya asik juga, mereka pergi pagi hari dan datang malam hari dan pulang membawa hasil.
Ketika itu ayahku baru saja pensiun dari PT. Pos Indonesia dan pada satu kesempatan saya ngobrol sama adik saya, ternyata ada respon positif karena adik saya juga berpikir ke arah yang sama.
Kita sepakat berdua mau ngobrol ke ayah di suasana yang santai sambil minum kopi dan makan pisang goreng saya mencoba mengungkapkan isi hati saya dan adik. Beliau hanya mengangguk-angguk. Tapi dasar saya merayu tiap hari tanpa putus asa dan pantang menyerah, alhasil sebidang tanah di Jatinangor aku gadaikan ke Bank Swaguna.... bank terbaik di dunia (menurut saya saat itu).
Kata sepakat dengan bank terjadi. Bank mengucurkan modal sebesar 25 juta rupiah dan kami membeli 5 armada jurusan Cicaheum – Kebon Kalapa. Adapun pembagian tugas saya dan adik saya sebagai berikut: Tomi: montir, koordinator supir, pemeliharaan teknik karena dia lulusan Itenas. Pudji: bank, dealer mobil, polisi, karena dianggap bisa merayu dan bohong dan ngajago ka polisi (jago ngawadul tea)
Ternyata di dalam perjalanan jadi pengusaha angkot itu luar biasa. Waktu 24 jam terasa kurang, kalau dirasa perlu ada waktu 36 jam. Hidup di kota bandung dan hiruk pikuk jalan yang padatnya luar biasa.. saya tidak menyangka kalau uang seratus rupiah sangat berharga. Karena gara-gara 100 itu di terminal bisa menjadi mayat dan pulang tinggal nama.
Yah nasi sudah menjadi bubur. Jadi kalau mau berhenti harus mengembalikan modal ke bank, tapi kalau tidak ya harus dijalankan dengan baik. Kadung edan.. di dalam perjalanan ternyata ada respon positif dari ayahanda. Beliau menanam modal 50jt. Kami senang bercampur bangga jeung rada sieun tapi kumaha engke lah....
Beliau bertanya kapan modal itu akan kembali, aku jawab seadanya “pak, kl uang 75 jt itu tdk dipakai usaha +/- satu tahun atau 12 bulan akan habis untuk dipakai makan dll. Tapi kl dengan uang 75 juta itu dibelikan angkot, sama-sama habis uangnya.. tapi waktunya bisa 3 tahun ataw 36 bulan.” Beliau sangat kaget dan heran krn bukan itu yang ada di dalam bayangan beliau. Beliau tidak menjawab ya atau tidak. Pergi begitu saja sambil tersenyum. Saya berpikir, beliau itu mungkin bertanya “yang gila sebenarnya siapa, saya atau anak saya”.
Di dalam perjalanan menjalankan kegiatan angkot ini ada aja supir yg absen atau tdk hadir dgn berbagai alasan. Saya mencoba.. apa sih enaknya jadi supir angkot tuh? Maka saya memutuskan untuk menjadi supir angkot dan jalan waktu malam sampai pagi hari (18.00 – 06.00). Alhamdulillah hari pertama tidak dapat penumpang. Hanya melihat-lihat medan dan pulang nihil. Hari berikutnya saya dapat uang Rp 5.000,-. Sedangkan untuk setor ke Tomy itu harus 15 ribu jadi saya nganjuk 10 ribu. Hari ke 3 saya bingung. Jam 1 malem belum dapet penumpang alias belum dapat uang. Aku jalan tanpa arah. Di dalam perjalanan melihat sebuah angkot butut (doyok – istilah supir angkot untuk angkot tua dan mogokan) mogok, dan saya coba untuk berhenti. Supirnya minta tolong supaya penumpangnya bisa dialihkan ke angkot saya. Adapun kompensasinya hasil angkot dibagi dua. Aku setuju dan semua penumpangnya pindah ke angkot aku. Bahagia bercampur senang mendapat penumpang penuh.
Jam 3 pagi aku mendapat rombongan penumpang yang pulang dari pasar sehingga aku bisa setor ke Tommy dan melunasi hutangku yang kemarin. Sisa uangku Rp 2.000,- cukup untuk pijat da awakna asa rengkod.
Pengalaman indah ini jadi pengalaman berharga. Jadi kalau saat sepi aku putar-putar kota bandung dan cari mangsa, kali-kali aja ada mobil doyok yang penuh tapi mogok jadi hasilnya bisa dibagi dua. Yang namanya mobil tua addaaaaaaaaaaa aja godaannya. Kalo gak abis bensin, ban bocor, mesin ngadat dan sarupaning panyakit mobil heubeul lainnya, saya selalu menguntit mangsa dari belakang mobil tua. Jadi dengan cara itulah saya mempunyai pengalaman mencari penumpang.
Waktu sudah tidak terasa lagi. Tiga tahun sudah di depan mata. Mobil-mobil yang ada saya overkreditkan kepada supir-supir pegangannya karena realita di kehidupan angkot itu sangat keras dan tidak bersahabat dengan dunia nyata. Tapi hasil semua itu pengalaman yang tidak mungkin aku dapatkan di sekolah.
Pada saat jatuh tempo, modal 75 juta dari orang tua itu tidak hilang semua. Masih bisa diambil tunai 25 juta utuk dikembalikan ke bank Swaguna. Jadi dgn uang 50 juta keluarga saya bisa hidup selama 3 tahun.
Ayahku kagum bercampur heran karena hidup berwiraswasta itu memerlukan pengorbanan yang sangat dalam dan pantang menyerah. Maka rizki dari Allah itu selalu ada. Yang sangat indah dalam kehidupan saya.. make angkot itu bangga. Saya latihan bridge di hotel-hotel bintang 5 selalu dikejar-kejar satpam atau pengelola hotel karena ada angkot ijo nyelonong ke hotel Homan, Panghegar, Preanger, Bumi Sangkuriang, Hyatt, Tizi’s, Hetty Salon. Tapi mereka langsung ketawa begitu supirnya saya. Itulah pengalaman saya jadi supir angkot.

1 komentar:

  1. NAON DEUI ATUH CARITANA. OOO CARITA MESEK BAWANG TEA ??? HEHEHEHE

    BalasHapus