Jumat, 30 Januari 2009

LALAKON SI PUDJI DADAGANGAN MAKE NGARAN ANAKNA

Sekolah di SD St. Agustinus Jl. A. Yani, setiap hari jumat kegiatan sekolah adalah belajar bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Untuk itu semua murid diberi susu murni, bubur kacang hijau, dan telur untuk meng-upgrade kemampuannya. St. Agustinus adalah SD kebanggaan kota Bandung, sekolah yang berkualitas dan menanamkan disiplin yang baik. Pudji menceritakan ini karena orang tua Pudji memasukkan ke sekolah tersebut agar kelak menjadi orang yang baik dan berguna. Semua dilanggar total oleh Pudji karena Pudji penulis senang berdagang. Pudji berteman dengan tukang dagang yang ada di sekolah. Adapun jualannya si Pudji mah kelereng hasil main, karet gelang, gambar, es, dll. Hasil jualan ini digunakan untuk membujuk teman2 yang pintar agar memberi contekan pada saat ulangan, begitu istirahat Pudji traktir jajan. Selama enam tahun menjabat sebagai KM (ketua murid) Pudji punya kenangan yang indah. Tidak ada sedikitpun di benak Pudji atau cita-cita Pudji menjadi pedagang walaupun sejak umur enam tahun otak dagangnya sudah ada. Pokona keukeuh hayang dagang. Orang tua yang selalu diwakili oleh ibu (alm.) karena beliau dengan sabar melihat kenyataan yang ada dan tetap bangga karena itu sudah usaha maksimal dari anaknya yang bebal tea. Pudji selalu naik percobaan dan selalu dapat teguran dari wali kelas, dan rapornya selalu dibagikan terakhir (catatan di rapor: rajin-rajinlah belajar supaya mendapat nilai yang baik). Masuk SMPN 2 Bandung bencana dan musibah datang jiga tsunami!!! Jualan ditambah dengan sepatu, kaos olahraga, raket bulu tangkis, dll. Kebiasaan dagang yang selalu dibawa harus dibayar mahal dengan tidak naik kelas alias ngendoggg... dari 57 murid hanya Pudji yang tidak naik kelas alias pangbodona sakelas. Dan sejarah baru di keanggotaan pramuka SMPN 2 dimana ada anggotanya yang tidak naik kelas, sampai-sampai Ibu Sartika (pembina pramuka saat itu) menangis melihat kegagalan anak yang dibanggakannya. Masa belajar di SMAN2 Bandung agak lebih panjang tahun karena peristiwa ’78... kali ini bukan karena tidak naik looh. Sudah meningkat dari cara dagang kecil-kecilan menjadi ikut pengadaan dan mulai jadi supplier di beberapa kantor pemerintah. SEKOLAH NOMOR DUA DAGANG NOMOR SATU, sudah jadi tekad Pudji. Cita-cita orang tua gagal total karena mereka tidak mengetahui Pudji dagang. Perguruan tinggi Pudji tinggalkan – bari jeung diudag-udag dosen pembimbing untuk tugas akhir – tapi angger we dagang tidak jera dan kuliah oge tetep tidak selesai. Pada suatu saat Pudji melihat orang berjualan di sepanjang jalan Surapati dan jalan Dipenogoro. Pudji punya ide untuk jualan sate maranggi dan gule lalu mulai membeli peralatan dan belanja ke pasar Ciroyom, pasar Andir, pasar Suci, Cicadas, dll. Semua dikerjakan sendiri dengan dibantu teman.. belanja tengah malam di saat batur mah keur ngeunah molor di imah. Daek kikieuan teh pedah manehna hobina dahar. Waktu kecil sampai SMA sekali makan siang saja mampu menghabiskan 30 tusuk sate kambing, 1 mangkok gule kambing, dan 2 porsi nasi jeung 10 kurupuk aci nu make formalin tea ...... RW06 saudara-saudaraaaaaaaaaaaaaa... Dengan modal nekad jeung kawani Pudji mengadu nasib dengan berjualan dan bergabung dengan sesama pedagang yang ada di gasibu. Pudji melihat dulu keadaan sebelum terjun ke medan perang. Pedagang pada umumnya berdatangan ke lokasi sejak pukul 02.00 dini hari. Pudji bangun pukul satu malam bersama tim manajemen sate maranggi mempersiapkan yang akan dijual untuk berdagang. Tepat pada pukul 04.00 tiba di lokasi dan memasang tenda serta spanduk yang bertulisan SATE MARANGGI CEP ZIDANE, sebuah nama yang tidak lain adalah nama anak sulung Pudji Balistika. Dalam hati Pudji bersyukur kepada Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa, betapa tidak... +/- 15.000 (lima belas ribu) pedagang bertaruh mengadu nasib di pasar tumpah yang komunitasnya orang-orang yang lari pagi dan jogging. Tapi Allah mengatur semua itu dengan rapi dan benar. Seluas hamparan itu tidak ada manajemen resmi yang mengaturnya. Tetapi mereka tersusun dengan rapi dan berkat kekuasaan Allah umatnya itu berjualan dan bekerja seadanya tapi geuning rame pisan euy pengunjungnya. Yang paling berkesan adalah Pudji berkenalan dengan tukang surabi, tukang sate gendong, kupat tahu, lontong kari, bubur ayam, ayam goreng, soto madura, tukang sepatu, bantal, sendal, handphone, jual beli motor, cakue, dll. Pengunjung mulai berdatangan dan memilih apa saja yang ada di lokasi termasuk melahap sate dan gule yang kami sajikan. Kami sibuk melayani rombongan yang datang di tempat kami. Tidak terasa karena hiruk pikuk pengunjung waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 dan pengunjung berangsur-angsur meninggalkan tempat kami berjualan. Kami bersama pedagang lainnya dan tukang parkir juga tukang sapu membersihkan jalan dengan rapi. Bersama manajemen Cep Zidane sudah siap untuk pulang ke rumah atau ke kantor pusat. Peralatan yang tadi dipakai kami bersihkan, manajemen cep zidane menghitung modal serta keuntungan yang kami kerjakan sejak pukul satu malam hingga selesai beberes dan berhitung pukul 16.00 sore hari. Hasil perhitungan kami dengan modal awal Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah), pendapatan kami hari itu Rp 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). Barang-barang yang tidak terjual kalau dinilai dengan uang +/- Rp 600.000,-. Gaji karyawan zidan sekitar Rp 150.000,- belum termasuk sewa mobil dan bensin jadi keuntungan kira-kira Rp 200.000,- saja!!!! Terima kasih ya Allah berkat kerja seharian semua cape tunduh kesel penat itu hilang dan Pudji mendapatkan uang Rp 200.000,- yang bisa dimasukkan ke tabungan untuk modal minggu berikutnya. Sorenya Pudji kedatangan si pemegang saham alias presiden direktur ZIDANE Corp. yaitu Cep Zidane yang ingin belanja mainan ke BSM, tungtungna mah meakkeun duit si Pudji Rp 750.000,- . Jadi si duaratus rebu nu tadina rek ditabung teh lenyap sempurna jeung kurang keneh 550 rebu kudu nginjeum ka BPR cap heheh.... Itulah lalakon si Pudji menjadi tukang jualan pinggir... eleh geuning ari keur budak mah sagala oge diberekeun nya.. Pudji Balistika Alumni SMPN2 ’76, Ketua Angkatan ‘76 Alumni SMAN2 ’80, Ketua Angkatan ‘80

2 komentar:

  1. urang mah geus ngetik panjang2 komentar, teu bisa posting euy, kudu log in heula. Ya sudah saya ulang tp beda komentar. Mirip2 lah..

    Maneh teh lucu keneh jie.. Hidup lucu !!
    tapi gw rada2 teu ngarti teh, kirain elu jualan sate maranggi teh wkt single keneh, ternyata ujug2 aya juragan zidane nya?

    Trus satu lagi saran sayah. Eh da memang cuma satu ketang. Cik atuh ngetikna make paragraph, jadi macana lebih enakeun teu dedempetan. Geunah kana panon jeung hate.. hehe..

    Sukses nya jie,

    Neneng Nana

    BalasHapus
  2. Halo Puji...
    Ini Ardini, temen sekelas waktu IC di SMP2
    Yang saya inget dari kamu
    kamu itu baik hati dan bodor.....
    Ari ayeuna dagang naon atuh ?

    BalasHapus