Kamis, 05 Februari 2009

KANG JANAKA DI MATA PUDJI BALISTIKA

Berpenampilan menarik, murah senyum serta ramah itulah ciri khas senior kita Kang Janaka alumni SMPN 2 Bandung dan SMAN 2 Bandung. Pudji ingin menceritakan kepada teman-teman alumni SMPN 2 dan SMAN 2 untuk bisa mendapat manfaat dari seorang senior seperti Kang Janaka.
Pudji sebetulnya tidak begitu mengenal tokoh ini secara dekat, maklum lah Kang Janaka itu senior yang sudah sepuh alias kolots. Keluaran SMAN 2 ’68. Tapi berhubung waktu itu SMAN 2 Bandung mau bikin reuni akbar dan ketua tiap angkatan diundang rapat di sekretariat IKA SMAN 2 Bandung – jl. Cihampelas 173 – Pudji datang bersama para ketua angkatan lainnya dan kami berkenalan sama senior-junior termasuk kenalan juga sama Kang Janaka.
Rapat dimulai , saling berbagi pengalaman masing-masing. Ujung-ujungnya di akhir rapat Pudji ditunjuk sebagai seksi konsumsi untuk acara reuni akbar SMAN 2 tahun 2005. Alasan beliau menunjuk Pudji karena pengalaman Pudji di bidang makanan. Rapat demi rapat dilalui dan persiapan reuni akbar pun dipersiapkan dengan cara beliau yang sangat sederhana tapi mudah dimengerti. Reuni akbar pun digelar. Hasilnya cukup menggembirakan.
Pada kesempatan lain SMPN 2 Bandung mengadakan tepangsono 67-76 tahun 2007. Seperti biasa Pudji masuk ke jajaran panitia. Persiapan dan pelaksanaan acara tersebut di BP-Bumi Sangkuriang. Beliau pun hadir. Acara meriah dan sukses. Pudji bertemu dengan Kang Janaka dan beliau bercerita kepada Pudji bahwa di bulan Oktober 2007 SMAN 2 pun akan ada reuni akbar lagi. Beliau bilang “bantu akang yah..” Pudji jawab “siap kang!!!”
Seperginya Kang Janaka penulis berpikir... reuni akbar??? Persiapan tepangsono aja butuh waktu delapan bulan.. kok reuni akbar Kang Janaka itu tinggal 3 bulan lagi... mana mungkin.. sekarang pun baru ngajak-ngajak. Di benak Pudji mungkin ada keajaiban lampu aladin, malin kundang ataw apalah nggak tau. Undangan datang ke rumah lengkap dengan data-data yang dibutuhkan. Rapatnya bulan puasa. Pudji tidak hadir sampai hari raya karena takut batal puasa :D
Ketemu setelah hari raya persiapan sudah lebih matang. Seperti biasa Pudji sebagai ketua angkatan ‘80 bersama teman-teman ’80 lainnya seperti Erry, Rani, Dolly, Ella, Sendy, Arief Sudjono, Budi Ruliandy, Selly, menyusun acara serta bazaar tiap-tiap angkatan. Kang Janaka seperti biasa dengan gayanya yang kalem tanpa banyak bicara, reuni akbar SMAN 2 Bandung ini adalah reuni paling bergengsi se-Indonesia karena dahulunya tempat kumpul seluruh anak bangsa sekolahnya rata-rata di Bandung.
Reuni pun digelar. Hasilnya sangat menakjubkan. Mulai dari angkatan 1950-2006 itu datang ke jl. Cihampelas 173, gedung bersejarah bagi murid-murid SMAN 2 Bandung. Bayangkan di jalan yang sempit dan macetnya pun sampai ke jl. Dago sekitar RS Borromeus, tak kurang dr 4.000 (empat ribu) undangan hadir di acara yang berlangsung selama dua hari.
Hari pertama dibuka oleh ketua IKA SMAN 2 Bandung yang tak lain dan tak bukan adalah gegedug Bandung dan mantan orang berpengaruh di Indonesia yaitu bapak Agum Gumelar. Beliau a-go-go di lapang basket dan lapang voli, oray-orayan dengan diiringi band Wachdach pimpinan Erlan Efendi dan disco Prea-Ex pimpinan Bebeh (disco paling bergengsi di angkatannya... ‘80s banget).
Hadir juga di reuni ini keluarga besar Arifin Panigoro serta dedengkot musik di kota Bandung dan di Indonesia, Sam bimbo dan kang Aah Ahmed bersama kang Toni Apriani, tidak ketinggalan teteh-tetehnya.. teh Sri, teh Erna (istri kang janaka), teh Chandra ketua panitia reuni akbar alias dokter gigi nu geulis tea. Sampai angkatan 2006 bergabung bersama musisi2 ex-SMAN 2 Bandung sambil dimeriahkan oleh sekitar 300-an stand bazaar sehingga reuni paling akbar itu berjalan dengan sempurna sampai jam 2 pagi. Besoknya mulai jam 08.00 acara dilanjutkan kembali sampai jam 16.00. Generasi tua dan muda dari 50 angkatan bergabung dengan setia sampai acara selesai.
Kang Janaka bersama teman-teman telah berhasil mempersatukan alumni SMAN 2 Bandung dengan baik. Bayangkan angkatan ‘50 dengan bangganya bisa menampilkan kesenian jadul, padahal penulis masih ada di surga saat itu – belum lahir –. Terlepas dari kekurangan seorang Kang Janaka, Pudji menyatakan rasa bangga, salut, dan semuanya.. mempunyai seorang senior yang telah berbakti kepada SMAN 2 bandung dan Kang Janaka cs. telah membuktikan dengan membangun mesjid SMAN 2 bandung, mengubah foodcourt serta kamar mandi yang tadinya kumuh jadi seperti di hotel, dan sebuah membangun gedung sekolah yang terletak di Lembang.
Kang Janaka cs. perlu kita contoh. Pudji melihat kesederhanaannya dalam memimpin, dan nasehatnya yang mudah dicerna. Pada kesempatan lain beliau mengajak Pudji menjadi anggota milis SMAN 2 Bandung, padahal penulis gatek beratttt. Tapi dengan gaya beliau yang ngajak, Pudji bersedia dan Pudji suka bergurau sama beliau ..kalau tidak ketemu satu bulan saja seperti dua ratus tahun tidak bertemu Kang Janaka. Dan beliau juga bercerita dengan gaya yang sama dan senyumnya yang khas, didampingi oleh istri tercinta Teh Erna yang setia mendampingi Kang Janaka.
Kang Janaka pun bercerita beliau sama teman-teman SMP 2 dan SMA 2 rutin mengadakan pertemuan dan sebagai tuan rumahnya bergantian. Pudji bilang hebat.. selamat Kang Janaka, mudah-mudahan teman-teman yang lain atau kita sebagai junior bisa mencontoh gaya dan cara Kang Janaka mempersatukan teman-teman SMPN 2 Bandung dan SMAN 2 Bandung. Cerita ini dibuat oleh Pudji tanpa minta pendapat dulu sama beliau. Maaf bila ada kata-kata yang menyinggung dan tidak berkenan.
PUDJI BALISTIKA Alumni SMPN 2 Bandung, Ketua Angkatan ‘76 Alumni SMAN 2 Bandung, Ketua Angkatan ‘80

Selasa, 03 Februari 2009

SI PUDJI JADI SUPIR ANGKOT

Tahun ’89 tahun yang membingungkan karena pada tahun ’88 dengan kebijaksanaan pemerintah di bulan november (kebijakan sumarlin) kebetulan kegiatan usaha saya adalah supplier dan pengadaan serta kontraktor. Dimana semua harga pada naik, alhasil perusahaan kami bangkrut dan ambruk. Sambil berpikir dan merenung saya berkunjung ke rumah saudara yang mempunyai armada angkot jumlahnya sekitar 25 armada.
Semenjak itu saya setiap hari berkunjung k rumah beliau serta bertanya-tanya dan belajar melihat kehidupan dan cara mengoperasikan angkot. Kelihatannya asik juga, mereka pergi pagi hari dan datang malam hari dan pulang membawa hasil.
Ketika itu ayahku baru saja pensiun dari PT. Pos Indonesia dan pada satu kesempatan saya ngobrol sama adik saya, ternyata ada respon positif karena adik saya juga berpikir ke arah yang sama.
Kita sepakat berdua mau ngobrol ke ayah di suasana yang santai sambil minum kopi dan makan pisang goreng saya mencoba mengungkapkan isi hati saya dan adik. Beliau hanya mengangguk-angguk. Tapi dasar saya merayu tiap hari tanpa putus asa dan pantang menyerah, alhasil sebidang tanah di Jatinangor aku gadaikan ke Bank Swaguna.... bank terbaik di dunia (menurut saya saat itu).
Kata sepakat dengan bank terjadi. Bank mengucurkan modal sebesar 25 juta rupiah dan kami membeli 5 armada jurusan Cicaheum – Kebon Kalapa. Adapun pembagian tugas saya dan adik saya sebagai berikut: Tomi: montir, koordinator supir, pemeliharaan teknik karena dia lulusan Itenas. Pudji: bank, dealer mobil, polisi, karena dianggap bisa merayu dan bohong dan ngajago ka polisi (jago ngawadul tea)
Ternyata di dalam perjalanan jadi pengusaha angkot itu luar biasa. Waktu 24 jam terasa kurang, kalau dirasa perlu ada waktu 36 jam. Hidup di kota bandung dan hiruk pikuk jalan yang padatnya luar biasa.. saya tidak menyangka kalau uang seratus rupiah sangat berharga. Karena gara-gara 100 itu di terminal bisa menjadi mayat dan pulang tinggal nama.
Yah nasi sudah menjadi bubur. Jadi kalau mau berhenti harus mengembalikan modal ke bank, tapi kalau tidak ya harus dijalankan dengan baik. Kadung edan.. di dalam perjalanan ternyata ada respon positif dari ayahanda. Beliau menanam modal 50jt. Kami senang bercampur bangga jeung rada sieun tapi kumaha engke lah....
Beliau bertanya kapan modal itu akan kembali, aku jawab seadanya “pak, kl uang 75 jt itu tdk dipakai usaha +/- satu tahun atau 12 bulan akan habis untuk dipakai makan dll. Tapi kl dengan uang 75 juta itu dibelikan angkot, sama-sama habis uangnya.. tapi waktunya bisa 3 tahun ataw 36 bulan.” Beliau sangat kaget dan heran krn bukan itu yang ada di dalam bayangan beliau. Beliau tidak menjawab ya atau tidak. Pergi begitu saja sambil tersenyum. Saya berpikir, beliau itu mungkin bertanya “yang gila sebenarnya siapa, saya atau anak saya”.
Di dalam perjalanan menjalankan kegiatan angkot ini ada aja supir yg absen atau tdk hadir dgn berbagai alasan. Saya mencoba.. apa sih enaknya jadi supir angkot tuh? Maka saya memutuskan untuk menjadi supir angkot dan jalan waktu malam sampai pagi hari (18.00 – 06.00). Alhamdulillah hari pertama tidak dapat penumpang. Hanya melihat-lihat medan dan pulang nihil. Hari berikutnya saya dapat uang Rp 5.000,-. Sedangkan untuk setor ke Tomy itu harus 15 ribu jadi saya nganjuk 10 ribu. Hari ke 3 saya bingung. Jam 1 malem belum dapet penumpang alias belum dapat uang. Aku jalan tanpa arah. Di dalam perjalanan melihat sebuah angkot butut (doyok – istilah supir angkot untuk angkot tua dan mogokan) mogok, dan saya coba untuk berhenti. Supirnya minta tolong supaya penumpangnya bisa dialihkan ke angkot saya. Adapun kompensasinya hasil angkot dibagi dua. Aku setuju dan semua penumpangnya pindah ke angkot aku. Bahagia bercampur senang mendapat penumpang penuh.
Jam 3 pagi aku mendapat rombongan penumpang yang pulang dari pasar sehingga aku bisa setor ke Tommy dan melunasi hutangku yang kemarin. Sisa uangku Rp 2.000,- cukup untuk pijat da awakna asa rengkod.
Pengalaman indah ini jadi pengalaman berharga. Jadi kalau saat sepi aku putar-putar kota bandung dan cari mangsa, kali-kali aja ada mobil doyok yang penuh tapi mogok jadi hasilnya bisa dibagi dua. Yang namanya mobil tua addaaaaaaaaaaa aja godaannya. Kalo gak abis bensin, ban bocor, mesin ngadat dan sarupaning panyakit mobil heubeul lainnya, saya selalu menguntit mangsa dari belakang mobil tua. Jadi dengan cara itulah saya mempunyai pengalaman mencari penumpang.
Waktu sudah tidak terasa lagi. Tiga tahun sudah di depan mata. Mobil-mobil yang ada saya overkreditkan kepada supir-supir pegangannya karena realita di kehidupan angkot itu sangat keras dan tidak bersahabat dengan dunia nyata. Tapi hasil semua itu pengalaman yang tidak mungkin aku dapatkan di sekolah.
Pada saat jatuh tempo, modal 75 juta dari orang tua itu tidak hilang semua. Masih bisa diambil tunai 25 juta utuk dikembalikan ke bank Swaguna. Jadi dgn uang 50 juta keluarga saya bisa hidup selama 3 tahun.
Ayahku kagum bercampur heran karena hidup berwiraswasta itu memerlukan pengorbanan yang sangat dalam dan pantang menyerah. Maka rizki dari Allah itu selalu ada. Yang sangat indah dalam kehidupan saya.. make angkot itu bangga. Saya latihan bridge di hotel-hotel bintang 5 selalu dikejar-kejar satpam atau pengelola hotel karena ada angkot ijo nyelonong ke hotel Homan, Panghegar, Preanger, Bumi Sangkuriang, Hyatt, Tizi’s, Hetty Salon. Tapi mereka langsung ketawa begitu supirnya saya. Itulah pengalaman saya jadi supir angkot.